Mianhata
Maret : Mianhandago
Lagi-lagi aku. Seorang wanita.Ingin mengaku rasa.
Kepada beberapa yang pernah mencoba merebut hatiku. Aku mengaku.
Kepada beberapa yang pernah mencoba merebut hatiku. Aku mengaku.
I'm sorry if you ever may feel like i did hurt you.
Dulu
aku berbeda, orang bilang sulit merebut perhatianku. Idealis. Perfeksionis.
Optimis. Tak terpikir untuk mencoreng harga diri seorang pria mana pun.
Hingga aku remaja.
Seorang laki-laki membuat hati ini kagum saja. Hingga dia-lah orang pertama
yang membuatku melonggarkan waktu. Mencipta imajinasi baru. Membiarkan menatap
ponsel berkali-kali karena notif new
message. Hampir tak ada yang spesial bagiku, jika tampak noda. Tapi padanya aku berteman. Pada akhirnya menganggap noda sebagai
kotor yang mudah dibersihkan.
Aku menjalani fase baru.
Cerewet sekali mengirimkan sinyal digital-analog-digital untuknya. Walaupun
seringkali juga tak terbalas. Tapi aku lebih banyak diam saat kami bertemu. Sebabnya, tahu kenapa?
“cieeee” oleh massa satu kelas.
Kalau saja aku bertingkah terlalu akrab, dalam kurun kurang
dari seminggu akan ku dengar, “jadian! Jadian!”.
Dunia maya menjadi penghubung kami. Pesan singkat sms atau facebook menjadi latar obrolan yang menarik dan nyaman. Bahkan katanya aku sudah bisa punya fanpage, banyak yang suka padaku, banyak yang bilang aku serasi dengannya.
Dunia maya menjadi penghubung kami. Pesan singkat sms atau facebook menjadi latar obrolan yang menarik dan nyaman. Bahkan katanya aku sudah bisa punya fanpage, banyak yang suka padaku, banyak yang bilang aku serasi dengannya.
Remaja yang kasmaran. Itulah aku, yang susah sekali menahan menjadikan tingkahku selalu canggung. Saat melihatnya, dalam hati mengaku kagum banget. Dan setiap kali dia balas menatap, sejurus ku palingkan wajah. Rasanya bahkan dari bola mataku saja sudah tampak dengan sangat jelas grogi dan tak ingin dia melihatnya. apalagi jika sedang bersamanya, pasang--tampang datar--seakan acuh. Hadeeeh, sungguh menyiksa. Aku memang cuek dan agak-muka-datar, tetapi aku biasa tertawa kepada teman-temanku. Ketidakberdayaanku ini menyadarkan, hatiku tak lagi menganggapnya biasa. Dan malah menjadi deg-degan saat bertemu. Alih-alih menarik
perhatiannya, aku justru menampik rasa itu.
Malam satu ini belum terlupa. Dia bilang ingin menjadi pacarku. Hm, betapa sebetulnya aku ingin
juga. Dia orang pertama yang cukup besar nyali berkata
demikian padaku! Naas bagiku pula, ku tolak keinginannya agar aku menyadang gelar—pacarnya.
Hai, kau tahu, aku
hanya menolak label pacar itu. Saat itu sebetulnya
aku ingin sekali menerima perasaanmu.
Selamat
tinggal, is your last text.
Kemudian karena
ku ingat, jangan
mencoreng harga diri seorang pria mana pun!
Maaf karena seakan menjatuhkan harga diri calon pacarku,
sebab ku tolak dia. Kenapa? Bahkan jika aku mencintainya sebagai calon
pasangan. Hanya karena aku menjaga kehormatannya sebagai laki-laki. Kehormatannya di hadapan Tuhan dan manusia. Bayangkan azab apa yang akan
menimpanya jika ku katakan,
“ya, aku mau jadi pacar kamu”.
Aku berusaha
menjaga diriku sendiri dan juga dirimu!
"Aku
bahkan tak ingin kau akan melakukan banyak hal bersamaku, orang yang bukan permaisurinya. Kau memiliki Mama high priority-mu. Jujur saja, aku masih belum pantas merasakan kasih sayang
darimu. Karena jika aku hadir dengan
alasan yang salah maka kau akan membagi rasa itu dari ibumu". Dia sangat mencintai ibunya.
Mungkin aku
bisa saja jadi pacarnya. Yang care mirip ibunya. Lebih pendiam dari ayahnya. Setia duduk di tribun nemenin latihan bareng sahabat-sahabat terbaiknya,
berkorban untuk kebaikan kita. Aku bisa menjadi lebih ego dari siapapun untuk mendapatkan
hati dan perhatiannya tanpa mengganti posisi orangtuanya.
Kau tahu, bisa dengan mudah membuka hatiku
untuk laki-laki.
Tapi aku hanya belum.
Bahkan saat itu sedih juga.
Sepertinya sedih karena harus menolak dia yang
padahal aku suka.
Tapi sekarang nyaris hilang rasanya.
Untuk laki-laki yang merasa seakan-akan sudah aku kecewakan,
Dengan atau tanpa sepengetahuanku,
Maaf jika ada waktumu yang sia-sia terhadapku.
Maaf atas kehabisan kata-kataku atas kepedulianku
sama akhirat kalian.
Tapi,
Nanti, aku juga bakal punya pacar. Hahaha..... Yang tahu kapan harus pendiam atau cerewet. Yang rajin ibadah, jago basket, dan asik diajak ngobrol. Yang bisa ku beri semangat
kalau dia sparing atau tanding dan jogging pagi barengan. Yang bisa aku kagumi
terus-terusan. Yang akan aku stare at him
wajahnya sampai dia kesal.
Komentar
Posting Komentar